Pekerja menurunkan kotak vaksin AstraZeneca / Oxford saat negara tersebut menerima gelombang pertama vaksin penyakit virus corona (COVID-19) di bawah skema COVAX, di bandara internasional Accra, Ghana 24 Februari 2021. [REUTERS / Francis Kokoroko]

RI Terima Lagi 6 Juta Dosis Vaksin Sinovac dan Astrazeneca

JAMBITERKINI.COM – Indonesia kembali menerima vaksin dari Sinovac dalam bentuk jadi dengan merek Coronavac sebanyak 5 juta dosis dan Astrazeneca sebanyak 1.086.000 dosis. Keduanya melalui mekanisme skema pembelian langsung.

“Dengan hadirnya kedua vaksin tersebut, berarti Indonesia sudah kedatangan vaksin COVID-19 sebanyak 208,7 juta dosis,” ujar Sekretaris Perusahaan sekaligus Juru Bicara COVID-19 Bio Farma, Bambang Heriyanto dalam keterangan tertulis, Jumat (27/8/2021) seperti dikutip dari detikcom.

Menurutnya, pemerintah terus berupaya mendatangkan vaksin guna mengamankan stok vaksin covid-19 bagi masyarakat. Bambang menjelaskan berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 26 Agustus 2021 dari 34 Provinsi hanya satu provinsi yang stok vaksinnya di bawah 14 hari.

Dia menyebut hingga saat ini jumlah vaksin yang telah terdistribusi sebanyak 123.256.044. Dari jumlah tersebut CoronaVac 1 dosis sebanyak 3 juta dosis, vaksin COVID-19 Bio Farma sebanyak 89.366.140 dosis, AstraZeneca sebanyak 15.982.584 dosis, Moderna sebanyak 7.558.810, CoronaVac 2 dosis sebanyak 6.848.644 dosis, dan Sinopharm dari hibah 499.866 dosis. Adapun total vaksin yang terdistribusi selama periode 1-26 Agustus 2021 mencapai 36.631.654 dosis.

“Bio Farma senantiasa akan terus mendistribusikan vaksin COVID-19 ke lokasi yang membutuhkan sesuai dengan arahan dari Kementerian Kesehatan,” terangnya.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi. menyambut baik posisi Indonesia yang menduduki peringkat 6 dunia dalam hal jumlah orang yang telah divaksin dan posisi ke 7 dunia dalam hal jumlah dosis vaksinasi. Diketahui sampai saat ini sudah lebih dari 92.8 juta penduduk indonesia yang divaksin dua kali maupun satu kali. “Bagus dan harus dilanjutkan,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai lokasi vaksinasi perlu diperluas. Selain itu dibutuhkan perbaikan dalam koordinasi penghitungan kebutuhan, pengiriman, dan distribusi vaksin. Soal masyarakat yang enggan divaksin, Prof Miko mengingatkan agar jangan menunggu terpapar baru menyadari pentingnya vaksinasi COVID-19.

“Jangan sampai menyesal kalau kena COVID-19, masuk ICU atau meninggal. Ekonomi dan masa depan keluarga yang ditinggalkan akan parah, kita masih pandemi,” terangnya.

Pakar Imunisasi, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH. DSc menambahkan untuk mengendalikan pandemi, target imunisasi adalah mencapai minimal 70% dari total penduduk agar tercipta herd immunity. Sedangkan menurutnya cakupan vaksinasi Indonesia baru mencapai 21%. Meski negara dengan penduduk lebih kecil daripada Indonesia bisa lebih mudah mendekati angka 70%.

Mengingat jumlah vaksin terbatas, dr. Jane mengatakan mendorong pemerintah daerah untuk mendahulukan wilayah dengan kasus COVID-19 paling banyak. Umumnya kasus banyak pada daerah yang lebih padat penduduk dan mobilitas tinggi.

“Dengan cara ini otomatis cakupan imunisasi akan lebih cepat meningkat dibanding vaksin yang ada di distribusi secara merata,” ujar Doktor Bidang Penelitian Pelayanan Kesehatan dari Erasmus University, Netherland ini.

dr. Jane juga mengingatkan masyarakat yang enggan divaksin varian delta jauh lebih cepat menular dan perjalanan penyakit dua kali lebih cepat dan mematikan. “Sebanyak 99% kasus COVID-19 di Amerika Serikat adalah mereka yang belum diimunisasi, kelompok anti vaksin dan anti masker,” tandasnya. (mg1)

x

Check Also

Walikota Medan Targetkan Kapal Isoter di Belawan Bisa Digunakan Pasien Covid-19 Besok

JAMBITERKINI.COM – Terus meningkatnya kasus Covid-19 di Medan, Sumatera Utara membuat pemerintah setempat makin kreatif, di ...