Kasus Flu Burung Pertama 2026 Terjadi di Jepang, Pemerintah Siaga

Pemerintah Jepang mengonfirmasi kasus wabah flu burung dengan sifat patogenik tinggi di awal tahun 2026, menandai kasus pertama penyakit ini di negara itu sepanjang tahun ini. Kasus terbaru ditemukan di sebuah peternakan unggas di Prefektur Miyazaki, yang terletak di selatan Jepang, demikian disampaikan Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang dalam pernyataan resminya.

Peternakan yang terdampak berada di Kota Nobeoka, dan memelihara sekitar 6.000 ayam petelur. Otoritas setempat langsung mengambil langkah cepat dengan memusnahkan seluruh unggas di lokasi terdampak untuk mencegah penyebaran virus lebih luas. Selain itu, aturan pembatasan pergerakan unggas diberlakukan di sekitar lokasi peternakan. Peternakan dalam radius 3 kilometer tidak diperbolehkan memindahkan ayam maupun telur, sementara peternakan di radius 3–10 kilometer tidak boleh mengangkut produk unggas ke luar area tersebut.

Wabah ini merupakan bagian dari musim flu burung yang berlangsung sejak musim gugur 2025 hingga awal musim semi 2026. Sebelumnya, Jepang telah mencatat 12 wabah flu burung pada musim yang sama, yang telah menyebabkan pemusnahan hampir 3,9 juta ekor ayam di berbagai wilayah.

Apa itu Flu Burung dan Risiko Penyebarannya

Flu burung, atau avian influenza, adalah infeksi virus influenza tipe A yang menyerang unggas dan beberapa spesies burung lainnya. Varian yang tergolong highly pathogenic avian influenza (HPAI) dikenal cepat menular dan seringkali menimbulkan angka kematian tinggi di antara unggas ternak.

Meski kasus flu burung pada manusia jarang terjadi, virus ini tetap menjadi perhatian serius dunia karena potensi mutasi yang dapat memengaruhi kesehatan manusia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagian besar infeksi manusia yang pernah dilaporkan terjadi akibat kontak langsung atau tidak langsung dengan unggas atau lingkungan yang terkontaminasi, bukan melalui penularan antarmanusia.

Upaya Pemerintah Jepang Mengendalikan Wabah

Pemerintah Jepang bergerak cepat untuk mengatasi kejadian ini dengan menerapkan protokol ketat pengendalian wabah, termasuk:

  • Pemusnahan unggas yang terinfeksi dan rentan terpapar

  • Disinfeksi area peternakan secara mendalam

  • Pembatasan transportasi unggas dan produk unggas di zona terdampak

  • Peningkatan pengawasan kesehatan pada peternakan unggas di seluruh negeri

Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang juga telah menyebarkan tim epidemiologi untuk menyelidiki sumber wabah serta melakukan survei pada peternakan lain untuk mengantisipasi penyebaran lebih luas.

Potensi Dampak terhadap Industri Unggas dan Pasokan Pangan

Wabah flu burung yang terjadi setiap musim ini kerap berdampak pada industri unggas domestik, termasuk potensi gangguan pasokan telur dan daging ayam. Di beberapa kasus sebelumnya, wabah yang meluas sempat memicu kenaikan harga telur dan pengetatan distribusi produk unggas, terutama di wilayah yang terkena dampak langsung.

Para ahli kesehatan hewan menekankan pentingnya tindakan biosekuriti di peternakan serta pelaporan cepat apabila ada unggas yang menunjukkan tanda penyakit. Koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga dinilai krusial dalam mempercepat respons terhadap wabah dan meminimalkan dampaknya.

x

Check Also

137 Ribu Anak dan Ibu Hamil di Gaza Hadapi Risiko Malnutrisi Hingga April

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengeluarkan peringatan serius terkait ancaman malnutrisi akut yang mengintai ...